http://www.sapos.co.id/berita/index.asp?IDKategori=293&id=4505
Sabtu, 13 Februari 2010
Sekolah Pinggiran yang Tak Terpinggirkan
SMPN 12 Tanah Merah, Samarinda
MUNGKIN masih banyak yang beranggapan bahwa sekolah yang letaknya jauh dari pusat kota, sebagai sekolah pinggiran, merupakan sekolah yang didirikan dengan ala kadarnya dan hanya berdiri sebagai satu-satunya lembaga pendidikan formal bagi warga sekitar.
Karena anggapan itu, banyak yang memafhumkan bahkan sekolah yang berada di pinggiran kota tidak perlu berorientasi pada prestasi akademis dan nonakademis siswanya. Namun anggapan itu sudah banyak ditepis oleh sejumlah sekolah yang berada jauh dari Samarinda kota, salah satunya seperti SMP Negeri 12 Tanah Merah, Samarinda.
“Tidak hanya memperhatikan kelancaran proses belajar mengajar, kita juga berusaha untuk meningkatkan potensi anak didik di segala bidang yang ada. Buktinya, dalam sejumlah kegiatan lomba, SMP kita juga bisa mengungguli sekolah lain yang jauh lebih favorit,” tutur Ainun Jariah MPd selaku kepala SMPN 12.
Beberapa prestasi yang didapatkan di sekolah yang berada di jalan poros Samarinda – Bontang ini adalah Juara III Sekolah Sehat se-Samarinda tahun 2009 dan menjadi Juara I Dokter Cilik se-Samarinda 2009/10. Ini menunjukkan bahwa sekolah yang digelari sekolah pinggiran ini juga memiliki kebijakan pengembangan diri berbasis multiple intelligence (multi kecerdasan) dan berbasis lingkungan. Baik bagi siswa maupun staf sekolah.
“Memahami bahwa tidak ada siswa yang sama dalam potensi dan bakat, para siswa di sekolah yang berjumlah 267 orang ini diberi kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Para siswa yang kebanyakan berlatar belakang dari keluarga petani di Tanah Merah ini pun mengikuti kegiatan ekskul seperti Drum Band, Pramuka, Paduan Suara, Sport Club, English Club, Komputer, Maths Club, TPA, PPKN Club dan masih banyak lagi,” tambahnya.
Tidak hanya itu, untuk memastikan kesuksesan para siswanya, tanpa ragu sekolah melibatkan mitra dari luar sekolah contohnya dengan mendatangkan Native Speaker (penutur asli) bahasa Inggris untuk berinteraksi langsung dengan siswa.
“Program ini sepenuhnya diselenggarakan untuk memacu siswa agar bisa mempraktikkan ilmu yang dipelajarinya. Jadi tidak hanya sekadar belajar, namun langsung dicoba dengan figur yang tepat,” tukasnya mengakhiri. (lee)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar